Kamis, 14 Agustus 2008

Penyiapan Sumber Daya Manusia Dalam Menyikapi Objek Wisata Bandungan

pendahuluan


Pariwisata merupakan salah satu aktivitas kota yang sangat mendukung dalam perkembangan kota, baik dari segi ”perkenalan” terhadap daerah lain dan juga bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah. Suatu daerah bisa menjadi dikenal orang banyak karena adanya objek wisata yang ada di daerah tersebut dan ketika orang-orang datang mengunjunginya maka ada pendapatan yang masuk secara langsung dan tidak langsung ke kas daerah karena efek multiflier yang tercipta sangat besar.

Ada beberapa pendapat mengenai definisi pariwisata dan terkadang tidak ada kesepakatan akan hal tersebut, antara lain :

1. Industri pariwisata menurut Ryan (1991) adalah studi tentang permintaan dan penyediaan akomodasi pelayanannya bagi mereka yang tinggal bukan dirumahnya dan pola pengeluaran, pemasokan dan kesempatan kerja.

2. Pada tahun 1993, Przecklawski mengatakan bahwa pariwisata bukan hanya masalah ekonomi, tetapi psikologi, sosial dan budaya serta memikirkan masalah rasa dan pengalaman dari suaru “setting” sosial, memahami diri sendiri dilingkungan yang baru.

3. Lain lagi menurut menurut A. Hari Karyono, (1997 : 15), pariwisata dikategorikan menjadi 2 (dua), yaitu secara:

a. Umum, dimana pariwisata adalah keseluruhan kegiatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus, dan melayani kebutuhan wisatawan.

b. Teknis, yaitu pariwisata merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok didalam wilayah negara sendiri atau di negara lain. Kegiatan tersebut dengan menggunakan kemudahan, jasa, dan faktor penunjang lainnya yang diadakan oleh pemerintah dan atau masyarakat, agar dapat mewujudkan keinginan wisatawan. Kemudahan dalam batasan pariwisata maksudnya antara lain berupa fasilitas yang memperlancar arus kunjungan wisatawan. Misalnya dengan memberikan bebas visa, prosedur pelayanan yang cepat dipintu-pintu masuk dan keluar, tersedianya transportasi dan akomodasi yang cukup. Faktor penunjangnya adalah prasarana dan utilitas umum, seperti jalan raya, penyediaan air minum, listrik, tempat penukaran uang, pos dan telekomunikasi, dsb.

Didalam dunia pariwisata, kita kenal dengan istilah wisatawan. Oka A. Yoeti menyatakan bahwa istilah wisatawan harus diartikan sebagai seorang, tanpa membedakan ras, kelamin, bahasa dan agama, yang memasuki wilayah suatu negara yang mengadakan perjanjian yang lain daripada negara dimana orang itu biasanya tinggal dan berada disitu kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 6 bulan, di dalam jangka waktu 12 bulan berturut-turut, untuk tujuan non migran yang legal, seperti perjalanan wisata, rekreasi, olahraga, kesehatan, alasan keluarga, studi, ibadah keagamaan atau urusan usaha (business) (A. Hari Karyono, 1997 : 20)

Tempat yang dituju oleh wisatawan bisa bermacam-macam, mulai dari wisata bahari, wisata gunung, wisata pertanian dan lain-lain. Tempat-tempat tersebut menjadi suatu objek dimana objek tersebut kemudian dideliniasi sedemikian rupa sehingga kita juga mengenal istilah kawasan pariwisata.

Arti dari Kawasan pariwisata itu sendiri adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata (UU RI No. 9, 1990 : 2). Menurut Depparpostel (waktu itu) kawasan pariwisata adalah suatu lahan dengan batas tertentu, yang sebagian atau seluruhnya diperuntukkan bagi pengembangan dan atau telah memiliki kelengkapan prasarana dan sarana pariwisata serta sistem pengelolaannya (Depparpostel, 1990 : 1). Sedangkan objek wisata adalah perwujudan ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya, sejarah bangsa, keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan (A. Hari Karyono, 1997 : 27).

Dilihat dari sisi penyediaannya, pariwisata terdiri dari empat komponen yaitu (Clare A. G, 1979 ; 69):

1. Informasi dan Promosi, motivasi untuk melakukan kunjungan wisata dapat dimiliki seseorang tetapi mungkin saja ia tidak tahu cara melakukannya. Sehingga pengetahuan terhadap daerah tujuan wisata sangat ditentukan oleh ketersediaan informasinya.

2. Fasilitas, ketersediaan fasilitas pelayanan berkaitan dengan daya tarik suatu daerah tujuan wisata, seperti fasilitas transportasi yang akan membawanya dari dan ke daerah tujuan wisata yang ingin dikunjunginya, fasilitas akomodasi yang merupakan tempat tinggal sementara di tempat atau di daerah tujuan yang akan dikunjunginya, fasilitas catering service yang dapat memberikan pelayanan mengenai makanan dan minuman sesuai dengan selera masing-masing, fasilitas perbelanjaan dimana wisatawan dapat membeli barang-barang souvenir khas dari daerah wisata tersebut, dan termasuk juga infrastruktur yang baik.

3. Daya Tarik, suatu obyek wisata akan berkembang apabila mempunyai daya tarik. Faktor daya tarik inilah yang akan mendorong wisatawan untuk mengunjunginya. Daya tarik suatu daerah tujuan wisata dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu sifat khas alam, wisata buatan, dan wisata budaya. Daya tarik wisata ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya jenis atraksi wisata. Atraksi wisata menyebabkan wisatawan mengunjungi suatu lokasi (Pearce, 1983 ; hal 9).

4. Aksesibilitas, jarak antara tempat tinggal dengan daerah tujuan wisata, merupakan faktor yang sangat penting. Pengembangan pariwisata sangat bergantung pada kemudahan pencapaian daerah tujuan wisata.

Untuk lebih jelasnya pendapat para pakar pariwisata mengenai faktor pembentuk daya tarik wisata dapat dilihat pada table di bawah ini.

Faktor Pembentuk Daya Tarik Wisata

Menurut Para Pakar Pariwisata

o

Pakar Pariwisata

Faktor Daya Tarik

1

Douglas G. Pearce

Aktraksi wisata, transportasi, akomodasi, fasilitas dan prasarana

2

Robinson

Cuaca, pemandangan, fasilitas, sejarah dan budaya, aksesibilitas dan akomodasi

3

Robert W. Mc Intosh

Sumber alam, prasarana, transportasi dan perlengkapannya, sarana dan keramah tamahan

4

Charles Gearing

Alam, sosial budaya, sejarah dan fasilitas rekreasi

Sumber : Rangkuman dari berbagai sumber

Secara teoritis penentu kunjungan wisata adalah faktor lokasi dan faktor obyek wisata. Pengaruh faktor lokasi terhadap perkembangan pariwisata suatu wilayah dapat diungkapkan melalui penilaian rute perjalanan wisata. Jenis pariwisata yang didasarkan pada obyek wisata dapat dibedakan menjadi (Oka A. Yoeti, 1993 : 114):

a. Cultural Tourism, yaitu jenis pariwisata, dimana motivasi orang-orang untuk melakukan perjalanan disebabkan karena adanya daya tarik dari seni budaya suatu tempat atau daerah. Dalam hal ini, obyek yang daya tariknya bersumber pada kebudayaan, seperti peninggalan sejarah, museum, atraksi kesenian, dan obyek lain yang berkaitan dengan budaya. Jadi, obyek kunjungannya adalah warisan nenek moyang, benda-benda kuno.

b. Recuperriational Tourism, biasanya disebut sebagai pariwisata kesehatan. Tujuan daripada orang-orang untuk melakukan perjalanan adalah untuk menyembuhkan suatu penyakit dengan kegiatan seperti mandi di sumber air panas, mandi di lumpur atau mandi susu di Eropa, mandi kopi di Jepang yang katanya membuat orang menjadi awet muda.

c. Commercial Tourism, disebut sebagai pariwisata perdagangan, karena perjalanan wisata dikaitkan dengan kegiatan perdagangan baik nasional maupun internasional, dimana sering diadakan kegiatan pameran, seminar, dan lain-lain.

d. Sport Tourism, biasanya disebut dengan istilah pariwisata olahraga. Yang dimaksud dengan jenis pariwisata ini ialah perjalanan orang-orang yang bertujuan untuk melihat atau menyaksikan suatu pesta olahraga di suatu tempat atau negara tertentu. Seperti Olympiade, All England, pertandingan tinju atau sepakbola.

e. Political Tourism, biasanya disebut sebagai pariwisata politik, yaitu suatu perjalanan yang tujuannya untuk melihat atau menyaksikan suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan suatu negara, apakah ulang tahun atau peringatan tertentu. Seperti, Parade 1 Mei di Tiongkok atau 1 Oktober di Rusia.

f. Social Tourism, pariwisata sosial jangan hendaknya diasosiasikan sebagai suatu peristiwa yang berdiri sendiri. Pengertian ini hanya dilihat dari segi penyelenggaraannya saja yang tidak menekankan untuk mencari keuntungan, seperti misalnya Study Tour, Picnic atau Youth Tourism yang sekarang kita kenal dengan Pariwisata Remaja.

g. Religion Tourism, yaitu jenis pariwisata dimana tujuan perjalanan yang dilakukan adalah untuk melihat atau menyaksikan upacara-upacara keagamaan. Seperti, misalnya ikut naik Haji Umroh bagi orang yang beragama Islam, kunjungan ke Lourdes bagi orang beragama Katolik, ke Muntilan yang merupakan pusat pengembangan agama Kristen di Jawa Tengah, atau agama Hindu-Bali di Sakenan Bali.

Dalam mengelola kepariwisataan, harus ada langkah-langkah yang harus ditempuh guna menuju suatu manajemen pariwiata yang ideal. Manajemen tersebut tersusun sehingga membentuk struktur yang melubatkan banyak pihak. Pariwisata tidak bisa dibiarkan begitu saja karena konsep pengembangan pariwisata tidak jauh berbeda dengan konsep pengembangan wilayah dan kota karena jangan sampai timbul kekacauan-kekacauan dalam tatanan perkembangan fisik maupun sosial ekonomi dan budayanya.

Terdapat 3 (tiga) elemen penting yang menjadi pembentuk struktur pendukung pariwisata, yaitu :

1. Dasarnya penyedia harus jelas, dimana harus ada kominikasi, perencanaan, kemitraan dan dukungan dalam hal pendanaan dan bantuan teknologi.

2. Dari segi hubungan, kualitas dari suatu produk tergantung pada penyokong usaha, infrastruktur, perlindungan dan manajemen sumber daya.

3. Permintaan ditinjau dari harus adanya respon pasar.

Selain keunikan yang bernilai tinggi perlu diperhati­kan kelengkapan prasarana dan sarana wisata pada obyek wisata. Prasarana adalah fasilitas yang dapat memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya sedangkan sarana kepariwisataan adalah sarana-sarana yang memberikan pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Untuk lebih jelasnya pendapat para ahli mengenai jenis prasarana dan sarana pariwisata dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Jenis Prasarana dan Sarana Menurut Para Ahli

No

Lothar A. Krack

Salah Wahab

Oka A. Yoeti

1

Prasarana

a. Prasarana

perekonomian

· Pengangkutan

· Prasarana komunikasi

· Utilitas

· Sistem perbankan

b. Prasarana sosial

· Sistem pendidikan

· Pelayanan kesehatan

· Faktor keamanan

· Petugas

Prasarana

a. Prasarana umum

b. Kebutuhan

c. Prasarana kepariwisataan

· Receptive tourist plant

· Residential tourist plant

· Recreative and sportive plant


2



Sarana

a. Sarana pokok kepariwisataan

b. Sarana pelengkap kepariwistaan

c. Sarana penunjang kepariwisataan

Sumber : Rangkuman dari berbagai sumber

Berdasarkan tabel tersebut diatas menurut Lothar A Krack (Oka A. Yoeti, 1985:172) dalam bukunya International Tourism membagi prasarana atas dua bagian, yaitu:

1. Prasarana Perekonomian:

a. Pengangkutan

Pengangkutan yang dapat membawa para wisatawan dari negara ia biasanya tinggal, ke tempat atau negara yang merupakan daerah tujuan wisata. Prasarana pengangkutan ini meliputi bus, taksi, kereta api, kapal laut dan kapal udara.

b. Prasarana komunikasi

Dengan tersedianya prasarana komunikasi akan dapat mendorong para wisatawan tidak akan ragu-ragu meninggalkan rumah dan anak-anaknya, karena tersedianya prasarana komunikasi di negara yang dikunjungi. Yang termasuk kelompok ini adalah radio, televisi, telepon, dan surat kabar.

c. Kelompok yang termasuk "Utilities"

Meliputi persediaan air minum, listrik, sumber energi, dan sistem irigasi.

d. Sistem perbankan

Yang termasuk kelompok ini adalah bank dan money changer.

2. Prasarana Sosial

a. Sistem Pendidikan

Adanya lembaga-lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri dalam pendidikan kepariwisataan merupakan suatu usaha untuk meningkatkan tidak hanya pelayanan bagi para wisatawan, tetapi juga untuk memelihara dan mengawasi suatu badan usaha yang bergerak dalam kepariwisataan.

b. Pelayanan Kesehatan

Apabila wisatawan yang menginap di suatu hotel, sebaiknya tersedia pelayanan kesehatan untuk pertolongan pertama bila ada yang sakit. Oleh karena itu di daerah tujuan wisata perlu tersedia pelayanan kesehatan.

c. Faktor Keamanan

Perasaan tidak aman dapat terjadi di suatu tempat yang baru saja dikunjungi. Perasaan ini timbul karena:

§ Seringnya terjadi pencopetan, penjambretan, penodongan selama dalam perjalanan atau di tempat yang dikunjungi

§ Seringnya terjadi pencurian di hotel di mana ia menginap.

d. Petugas yang melayani wisatawan

Yang termasuk kedalam kelompok ini adalah petugas migrasi, petugas bea dan cukai, petugas kesehatan, polisi dan petugas-petugas lain yang berkaitan dengan pelayanan wisatawan.

Menurut Profesor Salah Wahab dalam bukunya Tourism Management (Oka A. Yoeti, 1985:178) membagi prasarana atas tiga bagian:

1. Prasarana Umum

Yaitu prasarana yang menyangkut kebutuhan orang banyak yang pengadaannya bertujuan untuk membantu kelancaran roda perekonomian. Meliputi pembangkit tenaga listrik, sistem jaringan jalan, telekomunikasi, dan sistem penyediaan air bersih.

2. Kebutuhan masyarakat banyak

Prasarana yang menyangkut kebutuhan orang banyak. Termasuk ke dalam RS, apotik, bank, dan kantor.

3. Prasarana Kepariwisataan

a. Receptive Tourist Plan

Yaitu segala bentuk badan usaha atau organisasi yang kegiatannya khusus untuk mempersiapkan kedatangan wisatawan pada suatu daerah tujuan wisata. Seperti : travel agent, tour operator, dan Tourist Information Centre.

b. Residential Tourist Plant

Yaitu semua fasilitas yang dapat menampung kedatangan para wisatawan untuk menginap dan tinggal untuk sementara waktu. Seperti : hotel, motel, dan rumah makan.

c. Recreative and Sportive Plant

Yaitu semua fasilitas yang dapat digunakan untuk tujuan rekreasi dan olahraga. Seperti : fasilitas main golf, main ski, dan kolam renang.

Hubungan antara semua keterkaitan tersebut merupakan hubungan yang sangat dinamis, artinya antara satu dengan yang lain dapat mempengaruhi.

Wisata Bandungan

Wisata Bandungan merupakan salah satu objek wisata yang ada di Propinsi Jawa tengah, dengan menjual konsep keindahan alam dan kesejukan udara serta wisata belanja (pasar sayuran dan bunga-bunga) sekaligus tempat shelter yang indah bagi para pelancong dan pedagang.

Bandungan adalah sebuah kecamatan pemekaran dari Ambarawa, Bawean dan Jambu. Kecamatan Bandungan mulai terbentuk dan diresmikan pada Bulan Januari 2007 dan terdiri dari 1 kelurahan dan 9 desa. Objek-objek wisata di Kecamatan Bandungan tidak berada di 1 tempat tetapi menyebar sesuai dengan karakternya masing-masing.

Apabila kita memasuki Kecamatan Bandungan dari arah Ungaran, maka objek wisata yang pertama kita temui adalah Mess Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Mess ini menyediakan tempat bermainan anak-anak, tanaman hias, taman santai, kolam renang dan tentu saja penginapan. Pengunjung mess ini dalam 1 bulan rata-rata mencapai 400 orang dan tempat ini dijaga oleh beberapa petugas PJKA yang terdiri dari petugas loket (gerbang masuk), petugas administrasi mess dan petugas kolam renang.

Kemudian, tidak seberapa jauh dari mess tersebut terdapat sebuah pasar yang dikenal dengan nama Pasar Jetis. Pasar ini didirikan pada 10 Juni 2001. Pasar ini merupakan pasar sentra untuk jenis sayuran, buah-buahan dan juga bunga potong yang ada di Jawa Tengah. Sayuran dan buah-buahan kebanyakan dipasok dari luar Kecamatan Bandungan dan ada juga yang berasal dari kecamatan itu sendiri dan penjualannya sampai ke Yogyakarta dan Jawa Barat. Sedangkan jual beli bunga potong cuma buka pada Hari Selasa dan Jumat dimana pemasok bunga potong kebanyakan dari kecamatan itu sendiri dan juga daerah-daerah sekitarnya. Ada yang unik dari keberadaan pasar ini, yaitu sistim perkulian yang ada. Para kuli ini mempunyai kartu anggota yang dikeluarkan oleh Serikat Pekerja Buruh Indonesia Pasar Jetis Kabupaten Semarang. Ada 2 macam kuli yang bekerja di pasar ini yaitu kuli panggul yang berjumlah 75 orang, bertugas mengangkat sayuran dari mobil sayuran yang datang ke pembeli dengan upah Rp. 1.000,- per bakul dengan rata-rata pendapatan sehari mencapai Rp. 150.000,- dan kuli perpah yang berjumlah 90 orang, bertugas mengangkut bakul sayuran dari pedagang/pembeli pertama ke motor/mobil/pembeli kedua dengan upah Rp. 750,- per bakul dengan rata-rata pendapatan sehari mencapai Rp. 100.000,-. Para kuli tersebut tidak bertambah dan juga tidak berkurang karena sistem rekruitmen dipakai melalui pendaftaran dan tes yang dilakukan oleh serikat tersebut. Pergantian buruh hanya terjadi apabila ada yang sakit dan mengundurkan diri sehingga jumlah tetap seperti keadaan semula.

Selanjutnya, sepanjang jalan dari pasar menuju ke arah Barat Daya terdapat kebun-kebun penangkaran bunga, baik bunga potong maupun aneka bunga lainnya. Kelompok usaha ini kebanyakan berada di Desa Jetis. Rata-rata jenis tanaman yang dibudidayakan sebanyak 150 jenis yang siap dijual dari berbagai macam umur. Pola pemasarannya juga bermacam-macam, dari mulai partai besar untuk lansekap perkantoran maupun partai kecil yang melayani kebutuhan rumahan. Pasar mereka tidak hanya untuk daerah kota dan kabupaten yang ada di sekitar Kecamatan Bandungan tetapi sampai ke daerah Yogyakarta dan Solo. Kebanyakan dari jenis usaha ini merupakan swasta murni tetapi tetap dibawah asuhan Dinas Pertanian Kabupaten Semarang, walaupun tidak ada pungutan atau retribusi dari pemerintah daerah tersebut karena pengusaha Cuma cukup memiliki izin.

Kemudian setelah melewati beberapa penangkaran bunga (nursery), dengan mengikuti arah jalan yang beraspal dan cukup lebar (untuk ukuran mobil yang berhadapan), terdapat objek wisata yang dikenal dengan Candi Songo. Tidak diketahui jelas asal muasal keberadaan candi-candi kecil yang berjumlah 9 (sembilan) ini tetapi keberadaannya menyebar pada kawasan hutan lindung dan hutan wisata. Terdapat pola “sharing” untuk pengelolaan objek wisata ini, yaitu wisata candi dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, wisata hutan dan perkemahan yang dikelola oleh Perhutani Wilayah Jawa Tengah serta peran serta masyarakat dalam penyediaan kos-kosan, toilet umum, warung makan, parkir dan jasa rekreasi berkuda. Letak antara 1 candi dengan candi lainnya lumayan jauh dengan waktu tempuh rata-rata 10-15 menit dengan berjalan kaki dan bisa dilayani oleh kuda-kuda yang disediakan oleh penduduk dengan harga sewa Rp. 50.000,- untuk mengelilingi semua candi. Jumlah pengunjung untuk objek wisata ini pada hari libur biasa mencapai 1.000 orang dengan harga tiket masuk Rp. 5.000,- kecuali pada hari-hari besar atau hari libur panjang yang mencapai 1.500 pengunjung dan tiket masuk yang dikenakan sebesar Rp. 6.000,-.

Kemudian dari pada itu semua, sepanjang jalan mulai dari sebelum dijumpai Mess PJKA sampai dengan sekitar pintu gerbang Candi Songo, banyak dijumpai kosa-kosan dan juga penginapan serta hotel. Sampai dengan Febuari 2008, jumlah kosa-kosan dan penginapan sebanyak 18 titik lokasi. Kos-kosan ini dihuni oleh orang-orang yang bekerja pada hotel, perdagangan dan juga wanita binaan (pelayan hotel). Sedangkan jumlah hotel sampai periode yang sama mencapai 109 buah dengan pelayanan bermacam-macam.

Selain itu juga, di Kecamatan Bandungan terdapat beberapa industri rumah tangga yang menghasilkan produk tempe, susu kedelai dan wajid. Tidak diketahui jelas pamsaran hasil industri rumah tangga tersebut, tetapi informasi yang diterima hanya keberadaan wajid yang merupakan makanan khas daerah tersebut.

Penyediaan fasilitas lainnya adalah pelayanan air bersih yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Semarang dengan sumber air berasal dari pegununungan yang ada disekitar daerah tersebut.


Pembahasan & Analisis Sementara

Keberadaan Kecamatan Bandungan yang mempunyai daya tarik wisata untuk mengistirahatkan sejenak kepenatan dan kejenuhan aktivitas kerja di perkotaan merupakan salah satu alternatif yang dipilih oleh individu-individu dan kominitas tertentu yang bermukim didaerah sekitar daerah tersebut, antara lain Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kebupaten Demak, Kabupaten Kendal, Kota Salatiga, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Grobogan.

Dengan keberadaan jalan yang memadai, pintu masuk ke Kecamatan Bandungan bukan hanya dari daerah Ungaran, tetapi juga dari arah Ambarawa dan dari arah Magelang. Untuk pencapaian tersebut terdapat beberapa alternatif seperti angkutan desa dan juga ojek. Adanya beberapa alternatif tersebut membuat Kecamatan Bandungan untuk sementara mempunyai akses yang cukup tinggi (karena belum ada perhitungan secara nyata).

engan akses seperti itu, maka sebenarnya keberadan objek-objek wisata tersebut sangat memungkinkan untuk dikelola dan mempunyai rasa optimistis tinggi untuk maju lebih berkembang. Kecamatan Bandungan dapat menjadi pusat pertumbuhan baru apabila adanya intervensi lebih lajut baik dari kebijakan maupun pendanaan asal adanya kontrol yang sangat cermat seperti pengendalian bangunan dan pengendalian sosial budaya.

Akses Jalan menuju Bandungan

Dari beberapa pendapat para ahli yang telah dibahas sebelumnya di pada bagian awal deskripsi ini, terdapat beberapa fasilitas yang belum ditemukan di daerah tersebut, antara lain fasilitas rumah sakit, bank, tour operator dan lain sebagainya. Artinya disini, wisata bandungan masih tumbuh dan berkembang seadanya tanpa ada “masterplan”.

Ditinjau dari segi manajemen pelaku yang masih terkesan seadanya ini (walaupun terdapat pelayanan satu atap pada kantor kecamatan yang melayani perikanan, peternakan, tanaman pangan, tanaman perkebunan, sosial, KB dan pengembangan usaha kecil dan menengah), pelayanan juga masih terlihat sederhana dan “tradisonal” sehingga sumber daya manusia sebagai pelaku dan pelayan masih mengandalkan orang-orang yang dibina untuk pengelolaan tertentu. Sejauh manakah manajemen sumber daya manusia dapat dikenali dapat dilihat pada tabulasi data sementara dihalaman berikutnya.


Kesimpulan

Daya tarik eksisting dan potensial dari suatu daerah harus secara sistematis dan objektif diidentifikasi dan dievaluasi sebagai bagian dari tahapan survey dan analisis dari proses perencanaan. Sementara pemilihan daya tarik yang akan dikembangkan dan konsep perencanaan yang akan dilaksanakan untuk proses tersebut pada daya tarik tertentu akan dilaksanakan pada tahapan formulasi.

Tahapan yang harus dilaksanakan dalam pengembangan yang lebih ke arah profesioanl dapat dilakukan dengan :

a. Identifikasi dan Deskripsi lebih mendalam tentang daya tarik wisata yang ada.

b. Matrik Evaluasi penilaian objek dan daya tarik wisata.

Hal ini dilakukan dalam rangka pencapaian kesuksesan pengembangan pariwisata di Bandungan, termasuk didalamnya adalah kelayakan dalam pengembangan lembaga-lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri dalam pendidikan kepariwisataan. Hal ini merupakan suatu usaha untuk meningkatkan tidak hanya pelayanan bagi para wisatawan, tetapi juga untuk memelihara dan mengawasi suatu badan usaha yang bergerak dalam kepariwisataan.

Manajemen pariwisata yang dituju adalah manajemen profesional dimana harus mengutaman manajemen yang berbasis lingkungan. Manajemen yang berbasis lingkungan terdiri dari :

1. Menuju pembangunan berkelanjutan

2. Analisis dampak lingkungan

3. Daya dukung Lingkungan

§ Fisik

§ Ekologis

§ Sosial

4. Batas ambang atau toleransi status lingkungan


Tabulasi Sementara

Sumber Daya Manusia Yang Terlibat Dalam Pariwisata Bandungan


Jenis Objek Wisata

Hotel/Penginapan/

Kos-kosan

Mess PJKA

Pasar

Penangkaran Bunga


Lainnya Oleh Penduduk Yang Berdiri Sendiri

Candi Songo

Deskripsi


Fasilitas

Kamar, Kolam Renang, Mandi Uap, Meeting Room, Restoran

Tempat bermain anak-anak, tanaman hias, taman, kamar & kolam renang.

Toko, Kios, Pelataran, Koperasi, Jasa Kuli, Warung Makan, Toilet Umum, Wartel, Mushola

Area parkir muatan barang

Jasa kuda, Toilet Umum, Mushola, Bumi Perkemahan, Warung Makan, Pemandian

Pemancingan, Rumah Makan, Ojeg, Angkutan Desa, Parkir

Jumlah Pengunjung/Bln

20 – 40 org

400 org

Tak Terhingga

50 – 60 org

1.000 – 1500

40 – 60

Harga Tiket Masuk (Rp.)

30.000 – 150.000

5.000

-

-

5.000 dan 6.000

Tidak ada tiket masuk tetapi dihitung dari /Kg ikan yang didapat

Omzet Rata-rata

Per Bulan

3 juta – 24 juta

2 juta

§ Pasar (tidak ada data)

§ Kuli Panggul 3 jt – 4,5 jt

§ Kuli perpah rata-rata 3 jt

§ Pemilik 500.000 – 5 jt

§ Pegawai 300.000 – 500.000

5 jt – 9 jt

800.000 – 1,2 jt

Bersambung...







...... sambungan







SDM Yang Tersedia

§ Hotel

Manager, Roomboy, Pramusaji, Cook

Semua ± 15 org

§ Penginapan

Roomboy, semua ± 4 org

§ Kos-kosan

Tidak ada

§ 10 orang, terdiri dari petugas kebersihan 5 org, loket 1 org, kantor 3 org & kolam renang 1 org

§ Petugas Pasar sebanyak 11 org

§ Kuli Panggul sebanyak 75 org

§ Kuli perpah sebanyak 90 org

6 – 12 org

Petugas pengelola dilapangan berasal dari Dinas Pariwisata Kab. Semarang

§ Adm 4 org

§ Kebersihan 2 org

§ Kemananan 2 org

Penyedia jasa lainnya penduduk sekitar

2 org petugas jaga dan pemandu

Kualifikasi SDM

§ Hotel

S1 2 org, D3 3 org, SMA/SMK 5 org, SMP 5 org

§ Penginapan

4 org SMA

§ Kos-kosan

Tidak ada

Pendidikan D3 2 org, SMA 3 org, SMP 3 org, SD 2 org

§ Petugas Pasar

SMA 7 org, SMP 2 org, SD 2 org

§ Kuli Panggul

SMA 15 org, SD – SMP 60

§ Kuli perpah

SMA 15 org, SD – SMP 75 org

SD dan SMP

SMA 2 org

SMK Bisnis 2 org

SMP 2 org

SD 2 org

SD - SMP

Pengelola

Swasta

PJKA

UPT Pasar Jetis, Dinas Pendapatan dan Keuangan Daerah Kabupaten Semarang

Swasta / Pribadi

1. Dinas pariwisata Kab. Semarang

2. Perhutani Jateng

3. Penduduk setempat

Swasta / Pribadi

Sumber : Hasil Survey dan Analisa Sementara


Saran & Rekomendasi

Pola fikir yang berkembang adalah ketika akan maju menuju arah profesionalisme akan terbentuk suatu wacana perubahan status sosial dalam masyarakat terlepas berapa banyak yang menerima dan menolak. Ketika tidak ada atau tidak ingin adanya perubahan untuk maju atau menjadi lebih baik adalah menerima apa adanya dan siap dengan pergesekan sosial.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi atau katakanlah hitungan terhadap untung dan rugi adalah sesuatu yang lumrah. Begitu juga dengan pengembangan pariwisata di Bandungan. Hal-hal yang harus dilakukan adalah :

1. Dasar-dasar pertimbangan pengembangan kepariwisataan di Bandungan

2. Adanya konsep pengembangan pariwisata Bandungan yang jelas dan terencana.

Dari kedua konsep tersebut, tentu berhubungan dengan tersedianya sumber daya manusia dalam bidang kepariwisataan baik dari manajemen pemerintah, manajemen swasta atau para pelaku yang berhubungan langsung dengan para wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.

Ketika wacana dan rasa optimisme pengembangan pariwisata ingin lebih berkembang artinya pemerintah daerah juga harus menyiapkan tenaga kerja yang terampil di bidang kepariwisataan tersebut tetapi pertanyaannya, sejauh mana pariwisata Bandungan akan berkembang menjadi sebuah industri dan bentuk tenaga terampil seperti apa yang akan disiapkan, jangan sampai para tenaga terampil yang disediakan menjadi angka pertambahan pengangguran yang ada di Jawa tengah umumnya dan Kabupaten Semarang khususnya, seperti gambar yang ada di bawah ini, yang mencerminkan ketika tumbuh tidak bersamaan dan mekar (tumbuh) bersamaan dengan yang lainnya.

“Diantara bunga ada yang berkembang lebih cepat tanpa lihat kiri kanan, diantara 2 bunga terjadi yang sama tetapi di 1 bunga tumbuh kelopak secara bersamaan”

4 komentar:

Irvan Jauhari mengatakan...

test

Na mengatakan...

Tlg ya jelasin knp sarana pokok kepariwisataan dsebut jg receptive tourist plant, dan apa hubngnnya dg residential tourist plant, skalian kasih contohnya jg ya.. Plis bgt pnjelasannya di email ke cryptologirl@gmail.com, makasih..(klo bs scepatx y)

Na mengatakan...

Jelasin sama saia knp sarana pnunjng kpriwisataan tiap DTW sbaiknya berbeda stiap daerah, berikn contohnya..

Na mengatakan...

Jelasin jg ya knp sarana pelengkap kpariwisataan lbh dkenal dg recreative and supportive plant, n kasih contoh, truz jg apa fungsinya